"Taki Mi'guru" Kampanye Ajak Anak Korban Gempa di Mamuju Kembali Belajar, Libatkan 136 Relawan

Kompas.com - 21/03/2021, 17:17 WIB
Salah satu materi pembejalaran yang dilakukan para relawan mengajar kampanye Taki Mi'guru adalah pemahaman tentang Covid-19 dengan permainan ular tangga, Senin, 15 Maret 2021. Saleh Mandar/Pokja Pendidikan MamujuSalah satu materi pembejalaran yang dilakukan para relawan mengajar kampanye Taki Mi'guru adalah pemahaman tentang Covid-19 dengan permainan ular tangga, Senin, 15 Maret 2021.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat meluncurkkan kampanye "Taki Mi’guru” atau “Ayo Kembali Belajar”.

Kampanye tersebut dilakukan untuk memulihkan kegiatan belajar yang sempat terhenti karena gempa bumi pada Januari 2021.

Nandang Cahyono, Koordinator Bidang Perencanaan dan Program Kelompok Kerja (Pokja) Pendidikan Mamuju menginisiasi kampanye tersebut.

Ia mengatakan anak-anak yang terdampak gempa cukup lama tidak mengikuti kegiatan belajar karena harus ikut orang tua mereka mengungsi.

Baca juga: Selain Bantuan Pangan, Kantor Pos Mamuju Salurkan BST untuk 11.888 KPM

Sementara itu kegiatan belajar sebelumnya sudah terganggu oleh pandemi virus corona. Karena kegiatan belajar terhenti, semangat belajar anak-anak makin menurun.

Akhirnya, mereka mulai keranjingan bermain game online atau memilih membantu orang tua bekerja di kebun atau menangkap ikan di laut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Ya ini mengkhawatirkan. Jangan-jangan ini bencana ketiganya. Kalau kita biarkan begitu, anak -anak sudah tidak punya semangat belajar lagi. Mari kita ramai-ramai membuat kegiatan kampanye TakiMi’Guru ini,” ujar Nandang Cahyono, yang akrab dipanggil Nando, Selasa (16/3/2021) dilansir dari VOA Indonesia.

Baca juga: Seorang Balita di Pengungsian Mamuju Meninggal, Kondisi Sempat Membaik, tapi Kemudian Drop

Libatkan 136 relawan

Anak anak murid Sekolah Dasar Lebani, Kecamatan Tapalang Barat, berlari dengan semangat ketika para relawan mengajaknya belajar. Senin, 15 Maret 2021. Saleh Mandar/Pokja Pendidikan Mamuju Anak anak murid Sekolah Dasar Lebani, Kecamatan Tapalang Barat, berlari dengan semangat ketika para relawan mengajaknya belajar. Senin, 15 Maret 2021.
Kampanye Taki Mi’guru melibatkan 136 relawan. Mereka mengajar anak-anak di empat kecamatan yang paling terdampak gempa, yaitu Simboro, Mamuju, Tapalang dan Tapalang Barat.

Dalam kampanye itu, anak-anak belajar dalam kelompok-kelompok kecil.

Kegiatan belajar dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan tetap mengikuti protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Baca juga: Pengakuan Mubassir, DPO Kasus Korupsi yang Ditangkap di Tenda Pengungsi Gempa Mamuju: Saya Kabur ke Sejumlah Daerah

Taki Mi’Guru juga berupaya meningkatkan peran orang tua untuk mendampingi anak-anak dalam belajar, termasuk peran masyarakat di desa untuk terlibat dalam pemulihan pendidikan pascabencana.

“Ada guru yang rumahnya juga ikut rusak, ikut juga mengungsi sehingga beban psikologisnya ikut mempengaruhi mood dia untuk mengajar. Nah itu yang coba kita bantu. Coba kita isi bersama teman-teman di sini untuk mengisi gap (kekosongan) itu,” kata Nandang Cahyono.

Baca juga: Balita Korban Gempa Mamuju Meninggal, Diduga Kedinginan di Tenda hingga Alami Sesak Napas

Puluhan sekolah rusak

Kampanye Taki Mi'guru atau Ayo kembali Belajar bersama anak anak SD simboro, kecamatan Mamuju. Senin, 15 Meret 2021.Saleh Mandar/Pokja Pendidikan Mamuju Kampanye Taki Mi'guru atau Ayo kembali Belajar bersama anak anak SD simboro, kecamatan Mamuju. Senin, 15 Meret 2021.
Gempa pada 15 Januari 2021 merusak 67 bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 87 Sekolah Dasar dan enam Sekolah Menengah Pertama di empat kecamatan di Mamuju.

Data Pokja pendidikan menyebutkan dua guru meninggal dan lebih dari 300 guru luka-luka akibat gempa.

Murniani, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamuju, mengakui ada penurunan keterlibatan orang tua dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak karena harus mengungsi.

Baca juga: Kala Korban Gempa di Mamuju Jalani Operasi Caesar Dalam Tenda

“Kemudian ada juga yang trauma. Anaknya lalu tidak dilepaskan untuk belajar karena ketakutan dan traumanya selama ini,” kata Murniani, Senin (15/3/2021).

Dia menambahkan bencana gempa bumi makin menyulitkan kegiatan belajar di wilayah yang sebelumnya sudah terdampak pandemi COVID-19.

Terbatasnya jaringan internet menyebabkan tidak semua siswa bisa melakukan pembelajaran daring.

Baca juga: Kasrem 142/Tatag: Kondisi Mamuju dan Majene Berangsur Pulih

Jalani pembelajaran jarak jauh

Para relawan mengajar menggunakan berbagai metode belajar yang menyenangkan dan berpusat pada anak. Senin, 15 Maret 2021Saleh Mandar/Pokja Pendidikan Mamuju Para relawan mengajar menggunakan berbagai metode belajar yang menyenangkan dan berpusat pada anak. Senin, 15 Maret 2021
Sementara itu Data dari Save The Children Indonesia menyebutkan di Indonesia, sebanyak 600 ribu sekolah tutup dan 60 juta anak harus menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah.

Meski ada sekolah di zona tertentu yang diperbolehkan dibuka dengan memenuhi persyaratan tertentu. Namun sebagian besar anak tetap harus belajar dari rumah, baik secara daring maupun luring.

Sayangnya, banyak anak di Indonesia yang tidak mampu belajar daring.

Baca juga: Positif Covid-19, Empat Relawan PMI Jalani Isolasi Mandiri di Mamuju

CEO Save the Children Indonesia, Selina Patta Sumbung, dalam pernyataan kepada VOA, Senin (15/3/2021), mengatakan menurut studi global Save The Children pada Juli 2020, di 46 negara khususnya Indonesia, menunjukkan delapan dari 10 anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai.

“Empat dari 10 anak kesulitan memahami pekerjaan rumah, dan fakta bahwa minimal satu persen anak tidak belajar apapun selama PJJ,” kata Selina.

Hal ini berimplikasi terhadap pendidikan di Indonesia, seperti menurunnya motivasi belajar dan kembali ke sekolah, menurunnya kemampuan literasi dan numerasi.

Baca juga: Kemenkes: 2 Rumah Sakit dan KRI dr Soeharso Sudah Beroperasi di Mamuju

Petugas Basarnas sedang mengevakuasi korban yang terjebak reruntuhan sebagai dampak gempa di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021)Basarnas Petugas Basarnas sedang mengevakuasi korban yang terjebak reruntuhan sebagai dampak gempa di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021)
Termasuk ancaman putus sekolah karena anak harus bekerja dan atau menikah dini.

Lebih jauh lagi, anak akan kehilangan pembelajaran yang kemudian dapat mempengaruhi perolehan kesempatan mengakses pendidikan tinggi dan pekerjaan, serta menghasilkan pendapatan di masa depan.

Anak, guru, dan orang tua menghadapi tantangan dalam menerapkan PJJ, mulai dari keterbatasan materi dan akses terhadap pembelajaran serta pengajaran.

Baca juga: Polisi Jaga Ketat Toko dan SPBU yang Mulai Buka Pascagempa di Mamuju

Termasuk keterbatasan infrastruktur, seperti akses internet dan listrik yang tidak merata.

Tantangan lain adalah keterampilan guru untuk melakukan PJJ, kapasitas orang tua mendampingi anak belajar, serta kemampuan anak beradaptasi dan belajar mandiri.

Selain itu, tantangan terbesar juga adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman untuk anak.

Studi Global Save the Children mendapati bahwa dua pertiga atau 63 persen anak perempuan lebih banyak dibebani tugas rumah, dibanding anak laki–laki yang sebanyak 43 persen.

Baca juga: Kunjungi Korban Gempa Mamuju, Jokowi: Saya Ingin Pastikan Bantuan Terkelola Baik

Hal ini juga relevan dengan pengakuan 23 persen orang tua yang mengasuh dalam kondisi tertekan karena situasi pandemi.

Selain itu, satu dari delapan orang tua menyatakan telah terjadi kekerasan di rumahnya.

Suara anak yang ingin sekolah/madrasah segera dibuka karena takut dikawinkan pun, juga patut menjadi perhatian.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gara-gara Asmara, Sopir Taksi Online di Makassar Diculik, Polisi: Pelaku Ingin Beri Pelajaran ke Korban dan Istrinya

Gara-gara Asmara, Sopir Taksi Online di Makassar Diculik, Polisi: Pelaku Ingin Beri Pelajaran ke Korban dan Istrinya

Makassar
Nurdin Abdullah Akan Disidangkan secara Virtual di Pengadilan Tipikor Makassar

Nurdin Abdullah Akan Disidangkan secara Virtual di Pengadilan Tipikor Makassar

Makassar
Guru di Pangkep yang Belum Divaksin Dilarang Mengajar

Guru di Pangkep yang Belum Divaksin Dilarang Mengajar

Makassar
Salah Gunakan Status Pencari Suaka untuk Berkeliling Indonesia, 3 WN Sri Lanka Dideportasi

Salah Gunakan Status Pencari Suaka untuk Berkeliling Indonesia, 3 WN Sri Lanka Dideportasi

Makassar
Oknum Pelaku Pungli di Disdik Makassar Diduga Raup Puluhan Miliar Rupiah Tiap Tahun

Oknum Pelaku Pungli di Disdik Makassar Diduga Raup Puluhan Miliar Rupiah Tiap Tahun

Makassar
53 dari 56 Terduga Teroris yang Ditangkap di Sulsel Sudah Ditetapkan sebagai Tersangka

53 dari 56 Terduga Teroris yang Ditangkap di Sulsel Sudah Ditetapkan sebagai Tersangka

Makassar
Tersangka Penyuap Nurdin Abdullah Dipindahkan ke Lapas Makassar

Tersangka Penyuap Nurdin Abdullah Dipindahkan ke Lapas Makassar

Makassar
MT yang Tewas Ditembak Densus 88 Ternyata Pernah Teror Acara Syahrul Yasin Limpo

MT yang Tewas Ditembak Densus 88 Ternyata Pernah Teror Acara Syahrul Yasin Limpo

Makassar
Disebut Tak Sejalan, Wali Kota Makassar Copot Seluruh Ketua RT hingga Camat, Ini Penyebabnya

Disebut Tak Sejalan, Wali Kota Makassar Copot Seluruh Ketua RT hingga Camat, Ini Penyebabnya

Makassar
Wali Kota Makassar Ganti Semua Camat, Lurah, Ketua RW, dan RT: Mereka Dididik untuk Lawan Saya

Wali Kota Makassar Ganti Semua Camat, Lurah, Ketua RW, dan RT: Mereka Dididik untuk Lawan Saya

Makassar
Kesal Ibunya Sering Menangis, Jamal Bunuh Ayah Kandungnya

Kesal Ibunya Sering Menangis, Jamal Bunuh Ayah Kandungnya

Makassar
Pegawai Bank Sulselbar Diduga Selewengkan Dana Kredit Sejak 2016, Negara Merugi Rp 25 M

Pegawai Bank Sulselbar Diduga Selewengkan Dana Kredit Sejak 2016, Negara Merugi Rp 25 M

Makassar
Terpaut 39 Tahun, Pasangan Asal Bone Ini Sah Menjadi Suami Istri

Terpaut 39 Tahun, Pasangan Asal Bone Ini Sah Menjadi Suami Istri

Makassar
Ayahnya Adang Pelaku Bom Bunuh Diri, Anak Sekuriti Gereja Katedral Makassar Ditawari Jadi Polisi

Ayahnya Adang Pelaku Bom Bunuh Diri, Anak Sekuriti Gereja Katedral Makassar Ditawari Jadi Polisi

Makassar
Ini Peran 3 Perempuan Terduga Teroris yang Ditangkap Terkait Bom Bunuh Diri di Makassar

Ini Peran 3 Perempuan Terduga Teroris yang Ditangkap Terkait Bom Bunuh Diri di Makassar

Makassar
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.