Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Curhat Warga di Luwu Utara, Tiga Bulan Dilanda Banjir Bikin Hidup Semakin Sulit

Kompas.com - 29/05/2024, 09:16 WIB
Amran Amir,
Dita Angga Rusiana

Tim Redaksi

LUWU UTARA, KOMPAS.com – Warga Desa Lembang-lembang, Kecamatan Baebunta Selatan, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), hanya bisa pasrah setelah dalam tiga bulan ini banjir belum juga surut. 

Banjir yang terjadi sejak Maret 2024 itu akibat tanggul Sungai Rongkong jebol. Banjir merendam Desa Lembang-lembang dengan ketinggian mulai dari 50 sentimeter hingga 1 meter.

Seorang ibu rumah tangga (IRT) di Desa Lembang-lembang, Desi (30) mengatakan, banjir kerap melanda wilayahnya saat memasuki musim penghujan. Tak hanya itu, banjir juga silit diprediksi kapan surutnya. 

Baca juga: Longsor Susulan Terjang Luwu Sulsel, Jalan Penghubung Antardesa Putus

“Desa kami sudah menjadi langganan banjir setiap tahun. Dan kalau banjir cukup lama untuk menunggu surutnya. Sehingga kami kadang harus mengungsi, kadang juga tetap bertahan karena kami mau kemana. Kadang kami mengungsi beberapa hari tetapi dalam kondisi banjir masih merendam kami kembali lagi ke rumah,” kata Desi saat dikonfirmasi, Rabu (29/5/2024).

Desi mengatakan banjir sebenarnya sempat surut namun hanya sebentar. Banjir kembali datang setelah hujan deras di hulu Sungai Rongkong.

“Setiap hujan di hulu dan Rungai Rongkong airnya naik maka sudah dipastikan terjadi banjir lagi di desa kami ini. Seperti minggu lalu sudah sempat turun, ehh naik lagi sampai 1 meter bahkan lebih. Jadi kami tetap menjalani saja,” ucap Desi.

Saat banjir melanda , Desi dan warga lain terpaksa jalan kaki ke luar desa untuk membeli kebutuhan sehari-hari. 

“Kami jalan kaki dengan ketinggian banjir hingga 1 meter. Kadang juga kami naik perahu. Jadi kami membawa pakaian ganti supaya kalau sudah tiba di desa yang tidak kebanjiran kami ganti pakaian. Lalu ke tempat yang dituju seperti pasar dan sebagainya,” ujar Desi.

Dia mengaku banjir membuat warga di desanya gagal panen. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari cukup sulit.

“Tapi kali ini semua jagung, kakao dan tanaman produktif lainnya semua terendam banjir. Untuk itu kami harap pemerintah membantu menanggulangi tanggul yang jebol segera diperbaiki,” tutur Desi.

Hal yang sama disampaikan Koding (40). Dia mengatakan bahwa sudah tiga bulan warga kebanjiran akibat tanggul sungai jebol.

“Tanggul yang jebol di Lembang-lembang sudah sampai 100 meter makanya banjir terus terjadi. Dan memutus jalan warga akibat rendaman air yang menutupi ruas jalan penghubung antardesa,” tutur Koding.

Baca juga: BPBD OKU: 10.816 Rumah Terdampak Bencana Banjir

Koding menuturkan jika hendak keluar desa maka warga harus melalui jalan penghubung di Desa tete Uri, Kecamatan Sabbang Selatan.

“Hanya jalan ini yang bisa dilalui sekarang yakni dari Desa Lembang-lembang menuju Desa Tete Uri karena jalan lain yang ada sebelumnya sudah tertutup banjir sulit dilalui warga,” jelas Koding.

“Jaraknya yang harus dilewati ke Tete Uri dalam kondisi tergenang banjir sepanjang 3 kilometer dengan berjalan kaki karena kalau dengan motor sudah pasti tenggelam dan bisa rusak,” tambah Koding.

Koding mengungkapkan jika selama ini warga termasuk dirinya berkebun tapi tidak bisa menikmati hasil karena banjir.

Baca juga: Ibu Hamil Korban Longsor Luwu Melahirkan, Anaknya Diberi Nama oleh Kapolres Palopo

“Dulu berkebun tapi sekarang tidak bisa menikmati hasil kebun karena air memenuhi semua tanaman perkebunan seperti jagung, kalau dulu dalam satu hektar bisa dihasilkan 15 karung atau 2 ton lebih dengan harga jagung perkilo Rp 8.000, tapi sekarang tidak ada lagi,” terang Koding.

Koding menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga beralih usaha yang tidak menetap sehingga penghasilan juga tak pasti.

“Kadang warga memasang pukat atau menjala ikan untuk dijual karena selama banjir banyak ikan seperti Nila dan Mujair yang lepas sehingga warga kerjakan itu untuk menambah penghasilan,” imbuh Koding.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Prakiraan Cuaca Makassar Hari Ini Senin 17 Juni 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Berawan

Prakiraan Cuaca Makassar Hari Ini Senin 17 Juni 2024, dan Besok : Tengah Malam ini Berawan

Makassar
Saat Sapi Kurban di Makassar Jatuh ke Sumur, 18 Petugas Damkar Diterjunkan untuk Evakuasi

Saat Sapi Kurban di Makassar Jatuh ke Sumur, 18 Petugas Damkar Diterjunkan untuk Evakuasi

Makassar
Lapangan Karebosi Jadi Lokasi Shalat Id di Kota Makassar, Ini Titik Parkirnya

Lapangan Karebosi Jadi Lokasi Shalat Id di Kota Makassar, Ini Titik Parkirnya

Makassar
Pesona Salukang Kallang, Goa Terpanjang di Indonesia

Pesona Salukang Kallang, Goa Terpanjang di Indonesia

Makassar
Kisah Pilu Kakek di Makassar Gendong Jenazah Cucunya Pakai Ojol Sejauh 53 Km

Kisah Pilu Kakek di Makassar Gendong Jenazah Cucunya Pakai Ojol Sejauh 53 Km

Makassar
Video Viral Jenazah Bayi di Makassar Diantar Ojol Sejauh 53 Km, RSUP Tadjuddin Chalid: Kami Mohon Maaf

Video Viral Jenazah Bayi di Makassar Diantar Ojol Sejauh 53 Km, RSUP Tadjuddin Chalid: Kami Mohon Maaf

Makassar
Prakiraan Cuaca Makassar Hari Ini Minggu 16 Juni 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Makassar Hari Ini Minggu 16 Juni 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Makassar
Disdik Cari Penyebar Video Perundungan Siswa SMP di Makassar

Disdik Cari Penyebar Video Perundungan Siswa SMP di Makassar

Makassar
Sopir Ojol di Makassar Tempuh 53 Km Antar Jenazah Bayi karena Keluarga Tak Mampu Sewa Ambulans

Sopir Ojol di Makassar Tempuh 53 Km Antar Jenazah Bayi karena Keluarga Tak Mampu Sewa Ambulans

Makassar
Siswa SMP Difabel Korban Bully di Makassar Trauma Berat, Tak Mau Masuk Sekolah

Siswa SMP Difabel Korban Bully di Makassar Trauma Berat, Tak Mau Masuk Sekolah

Makassar
Akses di Dusun Ini Serba Terbatas, Ibu Hamil Harus Ditandu Lewati Bukit dan Hutan untuk Melahirkan

Akses di Dusun Ini Serba Terbatas, Ibu Hamil Harus Ditandu Lewati Bukit dan Hutan untuk Melahirkan

Makassar
KPU Palopo Buka Pendaftaran Pantarlih, Dibutuhkan 468 orang, Ini Syaratnya

KPU Palopo Buka Pendaftaran Pantarlih, Dibutuhkan 468 orang, Ini Syaratnya

Makassar
5.818 Calon Mahasiswa Baru Universitas Hasanuddin Lolos UTBK SNBT 2024

5.818 Calon Mahasiswa Baru Universitas Hasanuddin Lolos UTBK SNBT 2024

Makassar
Berniat Mendahului, Wanita di Makassar Tewas Terlindas Truk Molen

Berniat Mendahului, Wanita di Makassar Tewas Terlindas Truk Molen

Makassar
PPDB SMP di Palopo, Banyak Orangtua Pilih Datangi Sekolah untuk Daftarkan Anak

PPDB SMP di Palopo, Banyak Orangtua Pilih Datangi Sekolah untuk Daftarkan Anak

Makassar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com