Korban Pembacokan Diduga Tak Dilayani RS karena Hasil Rapid Test, Ini Penjelasan Pengelola

Kompas.com - 24/10/2020, 12:29 WIB
Kabit Reskrim Polsek Panakkukang Iptu Iqbal (kanan) saat melakukan olah TKP atas kasus penganiayaan 3 warga di Jalan Barawaja, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Jumat (23/10/2020). KOMPAS.COM/HIMAWANKabit Reskrim Polsek Panakkukang Iptu Iqbal (kanan) saat melakukan olah TKP atas kasus penganiayaan 3 warga di Jalan Barawaja, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Jumat (23/10/2020).

MAKASSAR, KOMPAS.com - Korban pembacokan di Makassar, Sulawesi Selatan, SE (44) dan Ibunya SA (69) menunggu hingga belasan jam untuk bisa dioperasi, Jumat (23/10/2020).

H, sepupu SE menyesalkan penanganan pihak Rumah Sakit Ibnu Sina tersebut.

Dia mengatakan, sewaktu masuk ke rumah sakit, SE dan Ibunya sempat menjalani rapid test. 

Hasilnya, SE dan ibunya reaktif. Sementara, paman SE yang berinsial Al dinyatakan non-reaktif.

Baca juga: Polisi Periksa Rekaman CCTV di Sekitar TKP Pembacokan Warga oleh Geng Moonraker

Menurut H, hasil ini yang membuat SE dan SA tidak juga dioperasi. Padahal, menurut dia, SE dan SA dalam kondisi kritis akibat luka bacok.

"Semua pasien ini kan wajib di-rapid, jadi dia reaktif. Tapi reaktif itu langsung divonis dia Covid-19 dari pihak RS Ibnu Sina," kata H yang juga merupakan tenaga kesehatan di Papua.

H sempat menelepon perawat di RS Ibnu Sina untuk mempertanyakan cara rumah sakit yang langsung memvonis keluarganya itu terpapar Covid-19.

Namun, saat perawat itu ditelepon, dia enggan membeberkan alasan rumah sakit tidak menangani sepupunya dan bibinya tersebut.

"Dia bilang kami tidak bisa (sebut) Bu, ini rahasia rumah sakit. Saya bilang rahasia RS mana? Saya ini keluarga terdekatnya dan saya mau tahu kalian punya skenario di situ. Saya bilang saya juga Satgas Covid-19 di sini, aturan mana keluar (hasil positif) satu jam itu?" ujar H.

Baca juga: Mantan Napi Bacok Istri dan Mertua di Makassar, Polisi: Pelaku Dendam Digugat Cerai Istri

H mengatakan,  pihak rumah sakit sempat merujuk sepupu dan bibinya itu ke RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, dengan alasan alat di sana lebih lengkap untuk pasien yang terindikasi Covid-19.

Namun, sesampainya di RS Wahidin, keluarga korban malah diminta biaya operasi dengan harga Rp 50 juta per pasien.

Hal ini kemudian membuat keluarga batal merujuk pasien dengan alasan biaya.

Menurut H, kondisinya semakin miris, mengingat dua keluarganya itu hanya terbaring di IGD RS Ibnu Sina dengan darah yang terus mengucur dari luka bacok.

"Saya sayangkan, jangan dibilang gara-gara Covid-19, pasien kritis ini dibikin kayak selayaknya hewan begitu. Di mana sih perikemanusiaan mereka semua di sana? Ini manusia loh. Darah masih mengucur di situ," ujar Herawati.

Konfirmasi pihak rumah sakit

Sementara itu, Humas RS Ibnu Sina dr Nurhidayat membantah bahwa kedua korban pembacokan itu terlambat dioperasi oleh pihak rumah sakit karena reaktif saat rapid test.

Dia juga membantah tuduhan bahwa pihak rumah sakit langsung memvonis kedua korban penganiayaan itu positif terinfeksi virus corona.

"Itu beritanya kurang tepat," kata Nurhidayat saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Sabtu (24/10/2020).

Baca juga: Layangan Tersangkut di Pesawat Citilink yang Akan Mendarat

Nurhidayat mengatakan bahwa sesaat setelah tiga korban pembacokan itu masuk RS Ibnu Sina, pihaknya memang sempat melakukan rapid test kepada mereka.

Namun, saat itu dokter spesialis ortopedi yang bertugas melakukan operasi di Rumah Sakit Ibnu Sina hanya satu.

Sementara dokter ortopedi yang lain saat itu sedang bertugas di rumah sakit lain.

Kemudian, untuk memudahkan operasi, pihak RS Ibnu Sina pun merujuk SE dan SA untuk dioperasi di rumah sakit lain.

Sementara, korban Al dioperasi di RS Ibnu Sina.

"Ya namanya juga manusia, kita ada keterbatasan tenaga, ya kita lihat kondisi (pasien), dokter Dedi sarankan ini pasien yang lain supaya cepat tertolong ditangani dokter lain," ujar Nurhidayat.

Awalnya, RS Ibnu Sina ingin merujuk korban ke RS Dr Wahidin Sudirohusodo.

Namun, Nurhidayat heran ketika keluarga pasien mengatakan bahwa pihak RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar meminta biaya Rp 50 juta untuk operasi tiap pasien.

Pihak RS Ibnu Sina akhirnya merujuk dua korban tersebut ke RS Dadi Makassar, setelah menghubungi direkturnya.

Namun, menurut Nurhidayat, proses rujukan itu memang agak lama, lantaran kondisi pasien saat itu sedang drop.

"Nah kami di RS Ibnu Sina tidak mau sepeti itu. Kami betul-betul pastikan pasien pada saat dirujuk itu sudah siap. Jadi dari kemarin itu tim dokter dan perawat di IGD sudah lakukan yang terbaik yang mereka bisa (agar stabil kondisinya)," kata Nurhidayat.

Nurhidayat mengatakan, SA dirujuk ke RS Dadi Makassar pada Jumat malam.

Dia kini sudah dioperasi oleh dokter di rumah sakit tersebut.

Sementara ITU, SE yang awalnya belum memungkinkan untuk dirujuk, perlahan-lahan sudah stabil. Dia pun dirujuk ke RS Dadi pada Sabtu pagi.

"Kalau SE kondisinya sempat drop. Tapi kita observasi ketat, dikasih darah, kontrol cairan. Nah tadi pagi baru stabil kondisinya, jadi baru dikirim ke RS Dadi," kata Nurhidayat.

Nurhidayat membantah informasi yang menyatakan bahwa pasien tidak dilayani.

"Jadi kalau alasan kami tidak mau melakukan tindakan karena dia Covid-19, itu berita yang kurang tepat," kata dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kabupaten Cianjur Berlakukan PSBB Proporsional

Kabupaten Cianjur Berlakukan PSBB Proporsional

Regional
Cerita Ramisah, Digugat Anak Kandung yang Puluhan Tahun Merantau ke Malaysia

Cerita Ramisah, Digugat Anak Kandung yang Puluhan Tahun Merantau ke Malaysia

Regional
Jadi Tersangka, Pria dan Oknum ASN di Jatim yang Mesum Dalam Mobil Tidak Ditahan, tetapi...

Jadi Tersangka, Pria dan Oknum ASN di Jatim yang Mesum Dalam Mobil Tidak Ditahan, tetapi...

Regional
Tabrak Monyet Menyeberang Jalan, 2 Perempuan Dibawa ke Rumah Sakit

Tabrak Monyet Menyeberang Jalan, 2 Perempuan Dibawa ke Rumah Sakit

Regional
Tes Psikologi untuk Syarat Mengurus SIM Bisa via Aplikasi, Begini Caranya

Tes Psikologi untuk Syarat Mengurus SIM Bisa via Aplikasi, Begini Caranya

Regional
Penyu Hijau Seberat 50 Kilogram Ditemukan Mati di Pantai Congot Kulon Progo

Penyu Hijau Seberat 50 Kilogram Ditemukan Mati di Pantai Congot Kulon Progo

Regional
Pemkot Banjarmasin Terapkan PPKM Transisi Selama 7 Hari

Pemkot Banjarmasin Terapkan PPKM Transisi Selama 7 Hari

Regional
3 Pembakar Kantor Perkebunan Kelapa Sawit di Kalbar Ditetapkan sebagai Tersangka

3 Pembakar Kantor Perkebunan Kelapa Sawit di Kalbar Ditetapkan sebagai Tersangka

Regional
[POPULER NUSANTARA] Siswi Muslim di Padang Wajib Berjilbab | Sopir Perusahaan Jadi Dalang Kasus Perampokan

[POPULER NUSANTARA] Siswi Muslim di Padang Wajib Berjilbab | Sopir Perusahaan Jadi Dalang Kasus Perampokan

Regional
Kadiskominfo Payakumbuh Positif Covid-19

Kadiskominfo Payakumbuh Positif Covid-19

Regional
Rombongan Pengendara Motor Kocar-kacir Dipukuli Seorang Pemuda, Ternyata Ini Penyebabnya

Rombongan Pengendara Motor Kocar-kacir Dipukuli Seorang Pemuda, Ternyata Ini Penyebabnya

Regional
Sederet Fakta Musibah Gas Geothermal Mandailing Natal, 5 Warga Tewas, Kronologi hingga Penjelasan Pengelola

Sederet Fakta Musibah Gas Geothermal Mandailing Natal, 5 Warga Tewas, Kronologi hingga Penjelasan Pengelola

Regional
Akhyar Nasution: Saya Akan Pecahkan Rekor, Jadi Wali Kota Tak Sampai Seminggu

Akhyar Nasution: Saya Akan Pecahkan Rekor, Jadi Wali Kota Tak Sampai Seminggu

Regional
Manajemen Artis TikTok Pembuat Kerumunan di Madiun Mengaku Lalai: Kami Akan Lebih Hati-hati

Manajemen Artis TikTok Pembuat Kerumunan di Madiun Mengaku Lalai: Kami Akan Lebih Hati-hati

Regional
Gara-gara Ada 2 Kepala Dinas, Kantor Kadis PU Bina Marga Jember Disegel DPRD

Gara-gara Ada 2 Kepala Dinas, Kantor Kadis PU Bina Marga Jember Disegel DPRD

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X